Di suatu pagi dalam sebuah diskusi di ruang kelas siswa-siswa SMA:
"Anak-anakku, sesungguhnya setiap orang itu memiliki moto hidup mereka masing-masing. Ibu ingin tahu. apa moto hidup kalian. Coba sebutkan !" begitu kata Ibu Guru kepada murid-muridnya. "Dan jangan lupa jelaskan juga moto kalian ya"
"Saya Bu", teriak si A dengan lantang dari pojok belakang kelas. "Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian.Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Artinya adalah jika ingin sukses kita harus berusaha keras dulu Bu", jelas si A dengan yakin.
"Bagus sekali nak, itu pantun yang bagus untuk dijadikan sebuah moto hidup" sahut Ibu Guru."Selanjutnya...!"
Lalu satu persatu anak pun menyebutkan moto hidupnya.
"'isy kariman au mut syahidan, artinya Hidup mulia atau mati syahid", kata si B.
"Friend is a part of my life, artinya adalah teman merupakan bagian dari hidpku", kata si C
Begitulah seterusnya, tiap-tiap anak menyebutkan kata-kata yang terlihat keren, mulai dari bahasa Inggris, Arab ataupun ucapan tokoh-tokoh terkenal yang bahasa Indonesia.
Lalu tibalah giliran si Z menyebutkan dan menjelaskan moto hidupnya.
"Mangan ora mangan sing penting kumpul (Makan tidak makan yang penting kumpul/bersama)" kata si Z.
Jelas saja kata-kata itu membuat seisi kelas tertawa.
dan dan dan......
Jika suatu ketika kita menjumpai seseorang memiliki moto sepeti itu, kita juga tertawa atau setidaknya tersenyum. Coba dipikir apa sebabnya ? Iya benar, kita terlalu sering menilai bagian luarnya saja, kita sering memakai kalimat sebatas teksnya saja, kita memakan makanan plus (maaf) bungkusnya. Saya pun pasti begitu, saya pasti akan tertawa juga.
tapi, semua berubah....
Peribahasa "Mangan ora mangan sing penting kumpul" sesungguhnya memiliki arti yang dalam. Saya sekilas mendengan hal tersebut dari ceramah Dr. Fahruddin Faiz. (Mohon maaf jika nanti redaksinya tidak sama dengan ceramah beliau) Setidaknya ada xxxxx hal yang bisa dipetik.
Satu, peribahasa tersebut menggambarkan bahwa persatuan itu sangat penting (sing penting kumpul), terlepas dari berbagai kondisi atau perbedaan yang ada (mangan ora mangan).
Dua, antar manusia tak boleh iri antar satu dengan yang lain karena adanya kelebihan harta, sehingga keirian itu menimbulkan perpecahan. Orang yang kurang memiliki harta (orang yang "ora mangan") tak boleh iri kepada orang yang berharta (orang yang "mangan"). Karena keirian itu dapat menyebabkan pecahnya persatuan ("kumpul").
Dan yang ketiga, adanya pesan bahwa tak boleh mementingkan ego sendiri (hanya mau melakukan sesuatu jika ada keuntungannya (mangan) saja.).
Setidaknya seperti itu, sejak saat itu saya pribadi memasukkan pribahasa titu ke dalam list pribahasa keren menurut saya. Bagaimana menurut teman-teman sekalian ?
