Saya berpikir bahwa syukur itu semacam menikmati atau merasa senang dengan sesuatu. Jika kita mensyukuri hidup ini, maka berarti kita merasa senang atau menikmati hidup kita ini.Saya kira, rasa syukur itu bukan dipengaruhi oleh faktor luar secara dominan. Secara umum rasa syukur bisa muncul dalam keadan seperti apapun, termasuk pada keadaan ketika kita menganggapnya sebagai keadaan yang menyengsarakan. Buktinya seperti ini, seorang presiden bersyukur ketika mendapat fasilitas pesawat pribadi, seorang mentri bersyukur ketika ia mendapat fasilitas mobil pribadi, seorang camat bersyukur ketika ia mendapat fasilitas mobil pribadi dan seorang lurah bersyukur karena ia mendapat fasilitas sepeda motor pribadi.
Bisa kita lihat bersama, dari presiden sampai lurah, mereka bisa bersyukur dalam berbagai kondisi. Hanya saja memang beda orangnya. Tapi pertannyaanya adalah, mengapa dengan kondisi yang benar-benar berbeda mereka bisa bersyukur dengan (anggaplah) tingkat syukur yang sama ?
Beberapa tahun lalu, saya pernah membaca beberapa lembar buku Anthony Robbins, menurutnya, kebahagiaan setiap orang berbeda-beda sesuai dengan standar yang mereka tetapkan agar mereka dapat bahagia. Begitu pula dengan bersyukur. Setiap orang bersyukur sesuai dengan standar bersyukur yang mereka tetapkan masing masing. Jadi untuk bersyukur dan bahagia sekarang juga, kita tak peru faktor luar berubah. Kita hanya membutuhkan standar yang berbeda untuk bahagia dan bersyukur.






